Senin, 24 November 2014

Pacitan II

Menggeliat canda bidadari meniti gugusan bukit
siap mengendap menyelinap pada titik pesona
gugah decak, takjub membelalak paksa rindu menjerit
menggores benar Pacitan di hati, tak sekedar peta.

Pucuk-pucuk cinta merekah tanpa rajah
pun buai lena kesima tanpa mantra
aku adalah sebagian media penjaja wajah
melekat rekat Pacitanku pada desir ludira.

Pacitan adalah bidadari yang kemarin tersudut
oleh ekonomi yang terjepit di kebisingan kota
namun aura ayunya kepada rindu menyulut
tunggu kiranya sepoi angin bicara.

Masih terngiang...
ombak bertepuk riang pada ubun karang
berisiknya tak seriuh rindu yang meriak di jiwa
ah... namun syukur masihlah terbuka untuk mengenang
dalam potretmu, ada sudut-sisi biasan nirwana.

Lekuk tapak-tapak mengulari gunung
tuntun mata menjulang bak kepuasan yang jumawa
menempuh keterjalannya bukanlah sebuah larung
sebab jelas rindu ini labuh di mana.

Kulepas aksara-aksara ini melukis keindahanmu
berharap yang bertahta di sana sanggup mengeja
sebab berlian dan permatamu teramat memukau
dan ambisi mata manca telah  terbaca.

E.A.T.
Surabaya, 3 Juni 2014

Related Post

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Unduh Ilmu