Jumat, 12 Februari 2016

Menilas Rintik Kenangan Pantai Soge

       
Setibanya di Pacitan sejak dua hari yang lalu, entah mengapa tiba-tiba aku menjadi penasaran sekali dengan suatu tempat yang foto-fotonya kini banyak muncul di dunia maya. Tempat yang sebenarnya tidaklah asing bagiku. Tapi semenjak aku lulus SMA tahun 2003 silam dan memutuskan untuk melanjutkan kuliahku di Jogjakarta, aku sudah jarang datang ke tempat itu. Terlebih kini aku yang harus menetap tinggal di Purwakarta. Pengangkatanku sebagai
PNS pada salah satu instansi di sana membuat aku hanya bisa tahu perkembangan tempat itu melalui internet dan informasi teman saja. Terakhir aku datang ke tempat itu ketika ada acara reunian dengan teman-teman SMA, itu pun tahun 2006 lalu.

     Sore ini, setelah seharian tadi aku habiskan untuk kumpul dengan keluarga kuputuskan untuk datang ke tempat itu. Sebuah tempat yang berada di desa Sidomulyo,  jaraknya sekitar 10 kilometer dari desaku Wiyoro, masih dalam satu kecamatan dengan desaku. Redupnya sore oleh mendung tak menghalangiku untuk pergi ke sana. Dengan mengantongi kamera sakuku, bergegaslah aku mengendarai motor bapak yang kebetulan tak dipakai. Di perjalanan cuaca semakin meredup, bahkan beberapa titik air dari langit sempat mengenai kulitku. Dan, aneh hal itu tidak membuatku mengurungkan niat. Justru seperti ada sesuatu yang semakin mendorongku untuk ke sana.
    Banyak perubahan memang ketika aku mulai memasuki desa Sidomulyo. Terutama akses jalan yang dulu terkenal dengan tanjakan dan turunan yang curam dan kelokan yang tajam kini berubah wajah. Jalanan sempit yang dulu dibalut dengan aspal yang menglupas di sana-sini, kini menjadi lebar dan dengan lapisan aspal yang rata dan halus. Hasil dari proyek pelebaran jalan jalur lintas selatan ini memang membuat perjalananku semakin nyaman saja. Hingga sampailah aku pada tempat yang saat ini membuatku penasaran dan yang selama ini hanya sebatas aku lihat di facebook saja. Ya, tempat itu adalah sebuah jembatan yang secara konstruksi memanglah memiliki nilai estetika. Jembatan yang bagian atas terdapat lengkungan pipa besi berwarna biru ini bernama jembatan Soge, yang mungkin karena letaknya di dusun Soge. Ada juga yang menamainya jembatan Cinta karena konon banyak pasangan remaja yang memadu kasih di sana.
     Motor aku parkir di sisi kiri jembatan, aku melangkah lebih menepi ke pagar pembatas jembatan. Mungkin inilah yang membuat banyak orang mendatangi tempat ini. Meski menurutku jembatan yang berdiri di atas muara kali Soge ini biasa saja, tapi nuansa alamnya memang luar biasa. Aku pun tergelitik untuk mengabadikannya dengan kamera sakuku. Kuhadapkan kamera ke arah selatan jembatan terdapat pesona deburan ombak menyapu pasir pantai Soge. Rintik gerimis tak menghalangiku untuk mencari dan terus mencari spot yang bagus untuk aku abadikan. Lambaian daun kelapa yang dari tempatku berdiri segaris dengan gunung-gunung di sebelah barat itu juga tak luput dari bidikan lensa kameraku. Dan ketika aku menghadap ke arah barat jembatan ini tiba-tiba terlintas di benakku kenangan pada gerimis sore sekitar sebelas tahun silam.

                                                                   ***
     "Sepulang bimbel nanti kita kemana Jon?" tanyaku pada Joni, teman sebangkuku di kelas. Di waktu yang semakin mendekati masa ujian nasional ini, untuk kelas XII memang dianjurkan untuk mengikuti bimbingan belajar tambahan di sekolah pada waktu sore hari. Dan seperti hari-hari sebelumnya, setelah bimbel aku dan beberapa teman tidak langsung pulang ke rumah melainkan main dulu ke suatu tempat atau hanya sekedar duduk-duduk di tempat nongkrong sekitar sekolah.
      "Gak tahu juga Ren, kalau cuma nongkrong-nongkrong saja ya bosan juga. Apalagi tuh lihat cuaca juga gak mendukung untuk main. Pasti sebentar lagi juga hujan." jawab Joni kepadaku. Lantas joni mengarahkan pandangannya ke Edo yang di belakangnya, tanpa mempedulikan Pak Robi guru bimbel matematikaku yang sedang membahas materi trigonometri itu. "Gimana Do? Ada ide?" tanya Joni kepada Edo setengah berbisik.
      "Aku angka ikut saja Jon, ngikut apa kata Rendi saja. Biasanya dia kan dia paling jago kalau masalah ide bikin acara kayak gini?" jawab Edo sembari mendongakkan wajahnya ke arahku. Sikapnya yang demikian seakan memberiku kesempatan untuk membuat gagasan acara yang baru.
      "Nah, lihat tuh hujan sudah mulai turun. Jadi tak ada acara yang lebih asik setelah ini kecuali hujan-hujanan." lontaran ideku yang ternyata membuat Joni dan Edo menyiratkan rasa heran pada mimik wajahnya. 
      "Hujan-hujanan gimana maksudmu Ren? Apa yang istimewa? Emangnya kita anak SD yang suka lari sana-sini sambil telanjang saat hujan?" protes Joni agak bikin gaduh.
      "Sudah, sudah.Tuh pak Robi sudah mulai risih dengan ulah kita." sergahku sembari menata cara dudukku agar tak terlihat oleh pak Robi bahwa dari tadi aku tidak memperhatikan materi bimbel. "Nanti kamu juga pasti tahu kalau ini lebih asyik dari sebelumnya." lanjutku kepada Joni setengah berbisik.
       Pukul 15.30 WIB, bimbel telah selesai. Pak Robi mengakhiri materinya dengan salam dan sapaan ramah khas miliknya, dilanjutkan dengan kegaduhan siswa yang bersiap untuk pulang. Tapi sebagian siswa masih ada yang menahan diri untuk pulang, sebab di luar sedang hujan. Termasuk Anis, yang masih belum beranjak dari kursinya. "Hei Nis, kok belum pulang? Biasanya selesai bimbel kan langsung cabut?" aku menyapa dari belakang tempat duduk Anis sambil jalan. Kemudian aku berhenti tepat di depan bangku Anis. Tampak benar wajah Anis yang semakin ayu ketika suasana meredup begini. 
       "Belum Ren, lagian masih hujan gini. Tadi aku kelupaan nggak bawa jas hujan. Nunggu, barangkali sebentar lagi hujan reda." Anis menjawab.
       "Ehmm... nggak pingin hujan-hujanan ta Nis?"
       "Eh, kamu Ren, kayak anak kecil saja hujan-hujanan?"
       "Maksudku, kita pulang ke rumahmu, eh.. anu.. maksudku kalau kamu pulang, aku ikut main ke rumah kamu." aku kembali gugup.
       "Jam segini? hujan-hujan gini?" Anis tampak keheranan.
       "Ehmmm... anu... maksudku, aku ingin main hujan-hujanan ke pantai dekat rumah kamu itu Nis. Jadi kalau kamu pulang sekalian aku ikut naik motormu sambil hujan-hujanan kan asyik. Kebetulan hari ini aku nggak bawa motor Nis." jelasku.
       "Lha nanti kamu pulang dari sana gimana?"
       "Gampang, ada Joni sama Edo biar mereka juga ikut nanti pulangnya biar kami boncengan tiga. Kalau nggak gitu nanti pulangnya biar aku minta antar Fajar." Fajar adalah teman dekatku juga. Cuma dia beda kelas sama aku. Rumahnya dekat dengan rumah Anis, dan hari ini dia juga ada bimbel bahasa Inggris di kelasnya.
       "Ehhmmm... gimana ya??? Ya sudah kalau gitu nggak apa-apa. Tapi nanti kalau dekat rumahku kamu sama anak-anak langsung ke pantai saja ya, biar aku pulang dulu. Nggak enak sama ortu kalau nggak pulang dan bilang dulu. Setelah itu aku langsung nyusul ke pantai." syarat dari Anis.
       "Oke..!!! Beres..." aku tak bisa sembunyikan kegiranganku. Ku beri isyarat pada Joni dan Edo untuk segera ikut berangkat, meski mereka dari tadi belum ngerti juga mau ke mana aku akan mengajak mereka. Kemudian ku dekati mereka.
       "Kita hujan-juhanan ke pantai dekat rumahnya Anis. Kamu berdua ajak Fajar biar ikut juga, biar aku boncengan sama Anis naik motornya." kujelaskan kepada mereka dan terkesan sedikit mengatur. Inilah kelebihanku. Entah sebab apa, aku selalu bisa mempengaruhi teman-temanku untuk setuju dengan gagasan-gagasanku, meskipun itu kadang kurang masuk akal. Dan untuk kali ini tampaknya mereka mengamini rencanaku meski secara pasti belum tahu apa tujuanku. Kembali kuhampiri Anis yang telah berdiri seolah menungguku untuk keluar kelas. Sementara itu, Joni dan Ego ke kelas sebelah untuk mengajak Fajar. 
       Berkendara motor dengan membonceng teman perempuan pada waktu hujan seperti ini adalah pengalaman pertamaku. Pengalaman pertama yang entah kalau digambarkan serupa apa. Terlebih perempuan yang aku bonceng adalah Anis. Jangankan dalam kondisi yang seperti ini. Untuk duduk berlama-lama ngobrol disekolah saja aku sering salah tingkah. Ada sesuatu yang selalu membuat aku gugup. Dan sepertinya Anis menyadari akan hal itu. Setiap dia menyadari akan kegugupanku, setiap itu juga dia tak pandai menyimpan senyumnya yang teramat manis itu. Seolah mengejek aku yang terkenal bengal dan usil ini ternyata tidak pintar dalam menata hati. Menata hati yang kini terasa diacak-acak. Di acak-acak oleh perempuan manis yang saat ini duduk di belakangku. Ya, dialah Anis.
      Lima belas menit perjalanan, tak terasa sudah hampir sampai di rumah Anis. Sepanjang perjalanan tak banyak dialog antara aku dan Anis. Seolah Anis membiarkanku menikmati suasana ini. Suasana yang sebenarnya serba kikuk tapi mendebarkan. Sesekali ku lirik wajah Anis melalui kaca spion yang sebelumnya kutata letaknya agar tampak pantulan wajah ayunya. Sebenarnya kaca spion sendiri tak sanggup dengan sempurna untuk memantulkan wajahnya sebab buram oleh biasan air hujan yang menempel di kaca. Tapi sesekali aku usap kaca itu. Mungkin dengan cara inilah aku bisa berani menatap wajahnya dalam-dalam. Sampai tak terhiraukan olehku kalau ketiga temanku Edo, Joni dan Fajar yang keluar sekolahnya tadi tak bersamaan denganku kini telah membuntutiku.
     "Ren, berhenti di sini saja ya." kata Anis.
     "Oh, baik Nis."
     " Sorry ya.. nggak apa-apa kan Ren? kamu ke pantai saja duluan, nanti aku nyusul."
     " Siap...!!!" jawabku sok tegas. Anis pun pulang, sementara itu sekitar sepuluh meter di belakang ketiga temanku juga berhenti. Entah apa maksudnya kenapa tidak berhenti dekat dengan kami saja. Kemudian aku lambaikan tangan dan mereka bertiga mendatangiku.
     "Kita ke pantai Jar." kataku pada Fajar sambil duduk di jok belakang motornya.
     "Lho, Ren.. bukannya ke Rumah Anis? Kok malah ke pantai?" tanya Fajar yang memang belum tahu rencanaku.
     "Sudah Jar, ikuti saja apa kata Rendi. Lagian kalau jam segini ke rumah Anis dengan keadaan basah gini apa kamu nggak takut sama ayahnya Anis ta?" sahut Joni yang berboncengan dengan Edo.
     "Iya Jar, lha wong aku saja takut, nih sampai merinding hehehe.." ledek Edo sambil menunjuk kulitnya yang kedinginan terkena hujan.
     "Haduh, kelamaan. Ayo berangkat saja nanti kamu juga tahu kalau ini bakal jadi pengalaman yang menyenangkan." aku membujuk Fajar dan akhirnya kamipun berangkat.
      Hampir seratus persen masih perawan. Itulah kondisi pantai Soge inil. Panjang pantai yang membentang dari timur ke barat ini menawarkan eksotika alam yang sangat memesona siapapun yang mendatanginya. Setelah memarkir motor di pinggir jalan, kami segera berhambur berlarian mendekati riak ombak  yang menyapu pantai. Baru pertama ini aku merasakan bermain di pantai dalam keadaan hujan. Deburan ombak dan suara rintikan air hujan yang jatuh di pasir, begitu kompak memecah kesunyian pantai ini. Pantai ini sepi. Sepi sekali. Terlebih ketika waktu hujan begini. Biasanya pantai ini agak ramai ketika hari Minggu atau hari libur. Kami berempat terasa sangat kecil di tengah bentangan pantai ini. Pantai yang kian temaram oleh balutan kabut seakan menambah kesan dalam pada kekagumanku pada suasana ini. Entah mengapa, aku sendiri tak tahu. Ketika pandanganku mengarah ke jalan di mana kami memarkir motor, tampak samar olehku ada seseorang berjalan membawa payung ke arah kami. Tak asing lagi oleh pandanganku meski agak samar. Dia adalah Anis yang ternyata sudah ganti baju, bukan baju basah akibat kehujanan pulang bimbel tadi. Mungkin ini jawaban atas kekagumanku pada suasana ini? Atau mungkin juga bukan karena setelah ini pun aku tak tahu apa yang harus aku lakukan. Anis datang mendekatiku. Sementara itu Joni, Edo dan Fajar tiba-tiba lari ke arah timur menjauhi kami bersamaan.
      "Ayo adu Sprint Jon!" tantang Edo sebelumnya pada Joni yang jago lari. Fajar yang juga ada di situ pun seolah tertantang juga yang kemudian ikut lari. Entah tertantang atau sengaja menjauhi kami. Terang saja Joni lah yang terdepan. Sebab Joni adalah atlet lari di sekolah kami. Sekitar seratus meter mereka adu lari kemudian berhenti, dan setelah itu aku tak begitu jelas mereka sedang apa, sebab kabut dan hujan mengaburkan objek mereka dari pandanganku. Sepertinya mereka berbincang-bincang dan tetap di sana, seolah tak ada niat untuk kembali mendekati kami. Aku sendiri semakin yakin kalau mereka tidaklah benar-benar niat adu sprint , melainkan... entahlah tak ku ambil pusing sebab tiba-tiba jantungku tiba-tiba berdegup cepat. Mungkin lebih cepat dari jantung teman-temanku yang habis sprint itu. Ada payung di atas kepalaku. Anis Menyodorkan payungnya ke arahku sehingga kami berdua berada di bawah satu payung. Aku kira Anis bercanda, sehingga aku geser sedikit badanku agak menjauh dari Anis. Tapi dia tetap saja menyodorkan payung itu ke arahku. Semakin membuat aku serba salah tingkah. 
      "Awas Nis, entar pakaianmu basah lho. Bukannya kamu sudah ganti pakaian?" sedikit menata kegugupan aku mengingatkan Anis.
      "Nggak apa-apa Ren, toh nanti aku pasti juga akan basah lagi." jawab Anis. Secara tak langsung aku membenarkan apa yang dikatakannya sebab tiupan angin pantai ini mau tidak mau akan mengantarkan air untuk menghampiri kami meski berada di bawah payung sekalipun.
      "Setelah lulus SMA apa rencanamu selanjutnya Ren?" tanya Anis padaku memecah kebuntuan keadaan.
      "Ehhmmm... ngikut kamu..." candaku cair.
      "Hah? Kamu ini ada-ada saja Ren. Aku nanya serius malah kamu jawabnya gitu. Emang kamu tahu rencanaku setelah lulus aku mau apa?"
      "Ya tahulah, selama ini aku dengan diam-diam kan ngumpulin informasi A sampai Z tentang kamu. Gini-gini aku kan salah satu fans kamu?" candaku selanjutnya. Candaan yang sebenarnya nyata adanya. Aku sudah lama menaruh perhatian pada gadis satu ini. Dan sepertinya selain aku juga banyak siswa laki-laki yang melakukan hal yang sama. Selain karena cantik, kepribadiaanya yang ramah dan sederhana banyak yang menaruh hati padanya. Termasuk aku. Atau mungkin ini yang membuat aku sering gugup dan salah tingkah ketika harus dekat dengannya. Termasuk pada saat ini.
       "Nah mulai ya, gombalnya keluar. Aku tanya beneran Ren!"
       "Kalau pendaftaran PMDKku lancar dan diterima, maka sesuai arahan orang tua aku kuliah di UGM Nis. Kalau kamu?"
       "Wah, keren. UGM. Semoga lancar dan diterima Ren. Kalau aku... ehhhmmmm... lho tadi katanya kamu sudah tahu rencanaku?"
       "Hehehe, bercanda masak gak boleh Nis? Atau jangan-jangan dugaanku benar ya?"
       "Dugaan apa Ren?"
       "Nggak ah, nanti kalau aku katakan kamu marah?"
       "Nah, justru kalau kamu gak mau bilang malah aku marah." desak Anis.
       "Janji nggak marah nih?"
       "Iya, janji."
       "Katanya anak-anak, kamu sudah dijodohkan oleh orang tuamu ya Nis?"
       "Ah, kata siapa Ren? Nggak kok." jawab Anis. Seolah ada rasa kaget yang disembunyikan dari mimiknya.
       "Ehhmmm... kataku barusan. Kalau benar gitu, berarti setelah lulus sekolah tak lama lagi kamu nikah ya Nis?"
       "Nggak lah Ren, aku pun ingin kayak kamu. Nglanjutin kuliah, tapi..." ucapan Anis terhenti ketika angin kencang menyapu kami. Spontan tanganku membantu Anis yang dari tadi memegang gagang payung. Tapi bukan gagang payung yang terkena genggamanku, melainkan tangan Anis. Tangan kami berdua berada pada satu gagang payung, yang membuat kami saling menatap. Tatapan yang tak pernah terjadi sebelumnya. Tatapanku dan tatapannya seolah ada rasa yang sama. Entahlah apa itu namanya.
       "Nis... Ehmmm... sebenarnya aku ingin mengatakan sesuatu ke kamu." dengan kegugupan yang melanda, tiba-tiba kata itu keluar dari mulutku. Dan mungkin karena aku yang memaksa untuk berani, beberapa kali tenggorokanku naik turun menelan ludah.
       "Apa Ren? ya sudah, katakan saja." jawab Anis. Tangan kami masih berada di gagang payung yang sebenarnya dari tadi tak lagi melindungi kami dari hujan itu.
       "Nis, entah kamu tahu atau tidak, dan apapun itu tanggapanmu, sebenarnya aku... aku suka kamu Nis." terbata aku mengatakannya. Kulihat tak ada ekspresi kaget di wajah Anis. Datar saja. Mungkin Anis sudah membaca sejak tadi atau bahkan sejak kemarin-kemarin. Atau bahkan sejak pertama kenal dulu. Karena sejak kenal, memang kekagumanku pada Anis sudah lahir.
       "Mbak Anis, Mbak di suruh Ayah pulang!" ku dengar teriakan dari arah jalan dekat aku memarkir motor. Membuat aku melepaskan genggaman dari tangan Anis yang tengah menggenggam gagang payung. Yang tadi berteriak adalah Dika, adiknya Anis. Aku pernah kenal dia ketika Anis mengajaknya main dan bertemu aku beberapa waktu yang lalu. Dika tidak sendirian. Dia dibonceng laki-laki muda yang mungkin usianya sedikit di atas usiaku. Aku tidak kenal. 
      "Aku harus pulang, Ren." Anis pamitan kepadaku, dengan mata yang berkaca. Aku yakin itu bukan karena terkena basahnya air hujan. Kulepaskan tatapanku, aku menunduk. Kemudian Anis berjalan menuju tempat Dika dan seorang lelaki yang tengah menunggu. Tidak tahu apa maksudnya sedari tadi lelaki itu menatapku.

                                                            ***

       Hari semakin gelap. Tak terasa, ini sudah menjelang waktu maghrib. Aku putuskan untuk pulang. Tapi aku tidak melewati jembatan Soge, melainkan lewat jalan yang dulu menjadi jalan satu-satunya menuju ke pantai ini. Jalan utama yang ada sebelum jembatan Soge dibangun. Dan jalan itu adalah jalan yang melalui rumahnya Anis. Sebab rumah Anis menghadap ke jalan itu. 
      Kukendarai motor sedikit pelan. Bukan karena takut jatuh sebab jalanan yang licin. Semakin pelan ketika aku melewati depan rumah yang tak asing bagiku. Ya, rumah Anis. Di teras rumah itu ada anak kira-kira usia anak sekolah dasar sedang duduk bermain. Sedangkan di sebelahnya ada seorang lelaki yang sepertinya sedang memangku seorang bayi. Sambil lalu aku memperhatikan lelaki itu, dan tanpa sengaja dia melihatku juga. Ya, aku kenal lelaki itu. [E.A.T. Surabaya, 11-11-14 ]
Eko Agus Triswanto

Related Post

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Unduh Ilmu