Sabtu, 27 Februari 2016

SBY, Suporter Sepak Bola Universal Anti Provokasi

Sepak bola. Olahraga yang satu ini selain memiliki penggemar paling banyak di seluruh penjuru kolong langit ini, ternyata juga memiliki cerita dan serba-serbi yang luar biasa. Tidak semata menyoal tentang keterampilan menendang bola oleh
sebelas pemain beserta aturannya saja, melainkan ribuan hal turut mewarnainya. Mulai dari urusan keringat hingga hajat hidup para pelaku sepak bola, di mainkan di sini. Demikian juga yang terjadi pada persepakbolaan tanah air. Hanya saja kalau saya boleh menilai, unsur yang mewarnai cenderung warna yang suram, hitam malah. Iya, minim prestasi sarat konflik dan provokasi.
    Isu permainan mafia bola, pengaturan skor, macetnya gaji, unsur politisasi, brutalnya suporter dan tetek bengek lainnya, benar-benar membuat prestasi sepak bola Indonesia bak fatamorgana. Tak kunjung menjadi nyata. Hingga pelbagai gejolak terjadi. Mulai dualisme liga, timnas kembar, hingga saat ini adalah pembekuan PSSI oleh Kemenpora yang mengakibatkan PSSI di banned oleh FIFA. Pro-kontra kian mendera. Para pemain dan pecinta sepak bola pun dibalut keprihatinan.
     Pembentukan PSSI oleh kemenpora di era Jokowi seakan memberi harapan bagi pecinta bola. Ketegasan dari pemerintah seolah-olah sanggup untuk memberangus para mafia bola. Meskipun tak dapat dipungkiri bahwa banyak kegelisahan menyertainya. Khususnya para pelaku sepak bola yang benar-benar menjadikan sepak bola sebagai mata pencahariannya. Ternyata pembekuan PSSI oleh kemenpora tak diimbangi dengan aksi nyata pemerintah untuk segera memperbaikinya. Hanya gelaran-gelaran kompetisi yang seolah menjadi penyeka air mata pecinta bola. Soal nasib PSSI, bagai pakaian habis di cuci, lantas dijemur tak segera dibereskan. Alias sekedar digantung. Hal ini ternyata juga tak luput dari perhatian salah satu tokoh besar di negeri ini, mantan presiden Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono. 
        Dalam akun twitternya, @SBYudhoyono, beliau menyampaikan betapa pedulinya beliau terhadap persepakbolaan Indonesia. SBY tidak sekedar menyinggung soal kejelasan nasib PSSI saja. Beliau juga  memperhatikan tentang perasaan rakyat  Indonesia yang seakan mulai lelas, bingung bahkan kehilangan harapan. Karena beliau menyadari bahwa sekali lagi sepak bola menyangkut hajat hidup orang banyak. Mandegnya kompetisi sudah barang tentu berpengaruh pada pendapatan pemain sepak bola, club, manajemen, bahkan sampai pada penjual kaos suporter atau pedagang minuman asongan sekalipun.
SBY juga menyadari betapa besar harapan rakyat Indonesia agar konflik persepakbolaan negeri ini akan segera berakhir. Dalam kondisi yang masih belum jelas atas kebijakan kemenpora yang membekukan PSSI ini pun, SBY masih optimistis bahwa Presiden Jokowi beserta para pemimpin terkait bisa memberikan solusi yang terbaik. Tidak ada kesan kritik berlebih yang SBY sampaikan. Melainkan harapan-harapan dan dukunganlah yang beliau berikan. Sungguh sebuah sikap bijak yang seharusnya dimiliki oleh seluruh pelaku sepak bola. Beliau benar-benar berperan sebagai suporter moral yang sangat patut dicontoh.
     Pada tweet terakhirnya, yang lantas dirangkum menjadi salah satu status di akun Facebooknya, Susilo Bambang Yudhoyono menghimbau kepada seluruh rakyat khususnya pecinta dan komunitas sepak bola untuk memiliki sikap yang arif dan berlapang dada. Terkesan ada pesan moral yang beliau sampaikan agar rakyat turut andil memberi solusi. Bukan provokasi. Sehingga pemerintah bisa memberikan keputusan terkait dengan nasib PSSI dan persepakbolaan negeri ini dengan tepat. Hal positif yang dapat kita jadikan pelajaran, dalam hal ini SBY memposisikan dirinya sebagai suporter universal. Semua pihak beliau dukung. Rakyat, pemain sepak bola bahkan pemerintah semua beliau beri dukungan juga saran. Akan tetapi sangat disayangkan, di bawah status bijak yang SBY tulis ini, masih berserakan komentar-komentar yang bernada rasis, bahkan provokatif.

E.A.T., Surabaya, 27 Februari 2016
Eko Agus Triswanto



Related Post

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Unduh Ilmu