Tentang Saya

Assalaamu ‘alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh..

      SASEMO (Salam Self Motivation)...!!!, begitulah salam yang biasanya saya ucapkan sebagai wujud memberikan motivasi positif khususnya pada diri saya sendiri. Sebab, saya sadar betul, sehebat apapun motivator yang hendak menggugah motivasi saya, tidak akan berhasil jika saya sendiri tidak pernah memotivasi diri saya sendiri.
      Pembaca yang budiman, apa kabar? Saya harap rahmat serta hidayah Allah Swt. tetap tercurahkan pada kita semua, sehingga kita bisa menjadi insan-insan yang penuh semangat dalam memaknai arti sebuah kehidupan, serta senantiasa bisa menjaga dan memanfaatkan anugerah yang luar biasa yang berupa kehidupan ini.
        Pada laman ini, saya bermaksud membuka ruang silaturahim, tentu dengan memperkenalkan diri saya kepada pembaca budiman semua. Saya, seorang laki-laki yang terlahir di Surabaya pada tanggal 9 Agustus 1985, yang lantas oleh kedua orang tua saya diberi nama Eko Agus Triswanto. Sebuah nama yang memiliki arti luar biasa (mungkin tidak saya bahas di sini) ini biasanya akan saya singkat menjadi E.A.T. dalam beberapa karya saya.
       Eko kecil, dalam usianya yang masih beberapa bulan, meninggalkan panasnya Kota Surabaya ---yang merupakan kampung halaman sang ayah--- pindah ke Pacitan ---yang merupakan kampung halaman dari sang ibu--- dengan segenap keterjalan perjalanan hidup. Persis, seperti kontur wilayah Pacitan dengan liku-liku jalan dan bukit-lembah daerahnya. Tahun 1990 mulai mengenyam pendidikan berkelompok di salah satu Taman Kanak-kanak yang bernama TK Sarimulyo, yang beralamatkan di Dusun Tawang Kulon, Desa Sidomulyo, Kecamatan Ngadirojo, Kabupaten Pacitan. Tahun 1991, di usia yang belum genap enam tahun, saya menginjakkan kaki pertama kali di pendidikan dasar, yakni SD Negeri Silldomulyo IV. Menyelesaikan pendidikan di SD ini sampai pada tahun 1997 dengan nilai NEM waktu itu merupakan yang tertinggi di Desa Sidomulyo.
       Selepas SD, saya kemudian melanjutkan ke pendidikan ke SMP Negeri 3 Ngadirojo, yang pada waktu itu beken dengan nama SEMPEGA. Bermodalkan kenekatan dan dengan sedikit dana, saya masuk di salah satu SMP unggulan di Kecamatan Ngadirojo ini. Teringat betul oleh saya, pada saat hendak masuk SMP ini sempat meneteskan air mata ketika harus memikirkan biaya untuk daftar ulang. Hati sedikit lega ketika teringat bahwa saat itu saya masih ada sedikit tabungan beasiswa yang saya dapatkan pada saat SD. Ketika menempuh pendidikan di SMP ini, saya harus menaklukkan rute perjalanan dengan jarak dari rumah sekitar 6 kilometer dengan jalanan yang di apit antara tebing dan jurang, dengan menggunakan sepeda pancal. Semangat masih tetap terjaga, hingga pada pelepasan siswa SMP pada tahun 2000, tiba-tiba saya dan ayah diberi kehormatan untuk duduk di barisan kursi terdepan. Ya, ternyata saya memperoleh NEM SMP pada waktu itu tertinggi kedua. Alhamdulillah.
       Tahun 2000, tersemat di tubuh saya seragam berwarna Putih Abu-abu, di SMA Negeri 1 Ngadirojo. Banyak warna yang saya dapatkan di sini. Selain ilmu dari pembelajaran di kelas, saya mulai aktif di beberapa ekstrakurikuler di sini, di antaranya adalah mading dan sepak bola. Bahkan angkatan saya ini bisa dikatakan sebagai pioner generasi emas mading SMA, yang pada waktu itu ---dengan kecanggihan tekhnologi yang belum mendukung --- sudah bisa menerbitkan majalah sekolah. Demikian halnya dengan ekstrakurikuler sepak bola. Kami juga merupakan pioner berdirinya ekskul sepak bola. Bahkan di hampir setiap pembicaraan sekolah tak lepas dari pembicaraan sepak bola. Baik itu hasil pertandingan di TV ---yang pada waktu itu adalah jaman keemasan Lega Calcio Italia-- maupun pertandingan-pertandingan antar kelas baik yang resmi berupa liga OSIS maupun sparing dengan kelas lain. Tahun 2003, merupakan ujung perjalanan saya menapaki pendidikan menengah, dengan dinyatakannya lulus dari SMA N 1 Ngadirojo ini.
           Selepas lulus SMA, saya memutuskan untuk tidak melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi. Sebab, selain minimnya dana, serta minimnya bimbingan yang saya ikuti terkait dunia perkuliahan, motivasi belajar saya pada waktu itu seolah-olah mencapai titik jenuh. Sangat berat untuk belajar. 2003 saya putuskan untuk membantu ayah pergi ke laut menjadi nelayan. Kerasnya kehidupan sebagai seorang nelayanpun saya rasakan. Atmosfer pergaulan remaja yang negatifpun perlahan-lahan mempengaruhi saya. Saya merasakan dampaknya. Sehingga tahun 2004 saya putuskan untuk mencoba menghindari kemungkinan yang lebih buruk dengan merantau ke Surabaya, mencari pekerjaan. Rejeki belum saya dapatkan dari langkah itu. Dua kali mencoba mencari pekerjaan ke Surabaya, dua kali juga gagal. Hingga terbesit oleh saya akan mencoba untuk melanjutkan kuliah saja. Meskipun pada waktu itu saya sama sekali tidak tahu mau kuliah di mana, jurusan apa, dan kelak ketika lulus mau menjadi apa. Gelap. Tak ada bimbingan dari siapapun. Termasuk orang tua, sebab beliau, orang tua saya, juga awam tentang hal ini. Hanya tekad, dukungan dan do'a beliau yang seolah-olah mendorong saya untuk melangkah dengan kekuatan super.
          Tahun 2005 saya daftar di Universitas PGRI Adi Buana Surabaya. Pilihan pertama adalah jurusan Pendidikan Sastra Bahasa Indonesia dan Daerah, pilihan kedua adalah jurusan Pendidikan dan Kepelatihan Olahraga. Melangkah dalam gelap, memang harus meraba-raba. Tapi harus tetap melangkah. Setelah bukti pendaftaran saya terima, hanya dengan pertimbangan beberapa jam saja, perubahan pilhan jurusan terjadi. Saya tidak jadi memilih kedua jurusan di atas dan menggantinya dengan jurusan Pendidikan Matematika. Nah, padahal kata matematika menjadi salah satu faktor melemahnya motivasi belajar saya di tahun 2003. Iya, langkah harus tetap diayun.
             Selama menempuh perkuliahan, saya tidak hanya melulu menekuni bidang akademis saja. Beberapa kegiatan kemahasiswaan juga saya ikuti. Hingga tahun 2007 saya didaulat menjadi Ketua Umum Himatika Univ PGRI Adi Buana Surabaya. Benturan-benturan dinamika organisasi saya rasakan di sini. Tapi bagaimanapun juga saya harus menjaga keseimbangan porsi antara soft skill dan hard skill yang harus saya dapatkan. Tahun 2009 menjadi ujung perjalanan saya menempuh S1 di kampus ini dengan memperoleh gelas S.Pd. dan meraih predikat menjadi yudisiawan terbaik untuk jurusan Pendidikan Matematika. Selain mendapatkan itu semua saya juga mendapatkan calon istri yang kini menjadi pendamping hidup saya. Kristin Retnawati.
           Sebelum diwisuda dari Univ. PGRI Adi Buana Surabaya, saya mendapatkan informasi dari dosen saya tentang lowongan mengajar di SMK Teknik PAL Surabaya. Sayapun bergegas melamar dan alhamdulillah, diterima di sekolah yang berada di dalam area PT PAL Indonesia (Persero) ini. Dengan menghadirkan inovasi-inovasi dan berbekal jiwa loyalitas pada organisasi, saya mencoba belajar untuk memberikan kontribusi untuk sekolah ini. Alhamdulillah sampai saat ini SMK Teknik PAL Surabaya merupakan ladang bagi saya untuk mengais rejeki. Selain sebagai pengajar, beberapa jabatan juga saya emban. Menjadi wakil kepala sekolah bidang kesiswaan mulai tahun 2010 sampai dengan 2015, menjadi wakil kepala sekolah bidang humas sejak tahun 2015 sampai dengan saat ini. Menjadi ketua BKK mulai tahun 2015 dan menjadi ketua koperasi sejak tahun 2011 hingga saat ini. Bahkan pada tahun 2013 saya mendapatkan penghargaan sebagai Guru Teladan oleh Yayasan Pusdiklat PAL Indonesia. Tentu, semua itu tidak akan tercapai tanpa ada dukungan dari semua pihak, termasuk istri saya Kristin Retnawati yang setia mendampingi langkah saya, serta anak saya Byantara Al Barra Triswanto.
         Wassalam ‘alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh..
          #SASEMO

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Unduh Ilmu